Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Monday, April 15, 2013

Pendidikan Anak Usia Dini








Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

            Pendidikan adalah bagian penting dari kehidupan manusia yang ditandai dengan adanya proses belajar. Proses belajar tersebut hendaknya dilakukan pada anak dengan usia dini. Memberikan anak pendidikan anak di usia dini dapat dilakukan dengan cara formal maupun informal. Cara formal adalah dengan mengikuti pembelajaran di TK (Taman Kanak-Kanak) dan pendidikan setara. Sedangkan cara informal adalah dengan memberikan anak pendidikan di rumah yang mendasar seperti yang diajarkan di TK.
            Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memang sudah ada di Indonesia sejak lama. Namun, orang tua dan pihak-pihak lain tidak begitu mengerti dan cenderung meremehkan PAUD ini, sehingga ada beberapa orang tua yang tidak memberikan pendidikan pada anaknya pada usia dini.
            Baru-baru ini, para ahli di bidang pendidikan dan pemerintah menyadari pentingnya Pendidikan pada Anak Usia Dini (PAUD). Karena PAUD ini adalah tahap penting bagi perkembangan kognisi anak, maka pihak pemerintah khususnya bagian Kemendiknas mulai membuat dan melaksanakan program PAUD yang baru guna mengembangkan sistem PAUD yang lebih baik di Indonesia.
            Sebelum saya menjelaskan sistem PAUD pada masa kini, ada baiknya jika kita mengetahui apa landasan dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan teori-teorinya.

Landasan PAUD
            Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, yang dimaksud pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.  Pendidikan yang dilaksanakan merupakan proses sepanjang hayat, di mana proses pendidikan harus dilakukan secara terus menerus dari usia 0 tahun sampai manusia itu meninggalkan dunia.


Teori Belajar Anak Usia Dini

a. Menurut Montessori (1966)
             Menyatakan bahwa lingkungan atau alam sekitar yang mengundang anak untuk    menyenangi pembelajarannya. 

b.    Menurut Mayke (1995)
            Menyatakan bahwa belajar dengan bermain memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktekkan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya.

c.    Teori Kognitif
            Belajar adalah proses diperolehnya pemahaman. Belajar merupakan proses mental yang aktif untuk memperoleh, mengingat, dan menggunakan pengetahuan.
  •      Teori Perkembangan Kognitif (Vygotsky dan Piaget)

Perkembangan terjadi menurut urutan secara teratur. Anak adalah pribadi aktif dalam proses perkembangannya. Pengetahuan anak secara bertahap dikonstruksi (dibentuk) saat berlangsungnya pengalaman sehingga berkembang pemahaman informasi yang dialami. Pengetahuan berubah sepanjang waktu dengan mengolah informasi baru melalui asimilasi dan akomodasi tersebut ke dalam struktur pengetahuan yang ada (skema). Perkembangan kognitif : tahap sensorikmotorik, praoperasional, operasi konkret, dan operasional formal.

Ada pula beberapa pandangan para ahli mengenai pendidikan anak usia dini, yaitu:
  •          Pandangan Pestalozzi

Menurutnya, anak dilahirkan dalam keadaan bersih. Perkembangan manusia terjadi dalam desain alam dan terbentuk oleh kekuatan-kekuatan luar. Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa keberhasilan belajar dalam satu tahap perkembangan merupakan kunci dalam mencapai keberhasilan belajar di tahap berikutnya. Oleh karena itu, ia berkesimpulan bahwa pendidikan anak merupakan hal penting yang berpengaruh terhadap kehidupan anak di masa depannya.

  •        Pandangan Froebel

Froebel mewujudkan ide-idenya dalam pendidikan anak dengan mendirikan lembaga pendidikan Froebel. Ia lebih menfokuskanpada konsep pendidikan anak sebagai alat reformasi sosial. Ia menyiapkan program pendidikan pra-sekolah sebagai sarana untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang lebih baik di masa depan. Anak dilahirkan dengan pembawaan yang baik, sehingga tugas lembaga pendidikan untuk mengarahkan anak pada kehidupan masa depan yang lebih baik, dengan mendorong kemampuan untuk mencipta dan berkreasi.


PAUD pada Masa Kini
    Dari beberapa sumber yang saya dapat, sistem PAUD yang akan berlaku maupun yang sudah diberlakukan adalah sebagai berikut:
  1.       Lebih bertujuan untuk mengembangkan kognisi dan bahasa pada anak, seperti mulai mengajarkan anak untuk mulai menulis dan membaca dengan tujuan agar anak tidak kesulitan ketika memulai pendidikan formal (SD)
  2.     Mengajarkan murid untuk mengenal dan menggunakan teknologi
  3.     Memberikan buku cerita bergambar untuk melatih anak untuk membaca dan mengembangkan kreativitasnya.
  4.         Belajar dan bermain dari lingkungan sekitar. Melalui bermain, memungkinkan anak untuk terlibat dalam lingkungannya sehingga anak belajar melalui berbagai pengalaman dengan objek, orang, kegiatan yang ada di sekitarnya. Pembelajaran yang dialami anak akan menjadi lebih menarik, menyenangkan (fun learning), bermakna dan tidak membosankan.
  5.         Sistem PAUD menekankan pada pendidikan rohani dan belajar untuk mengenal dan mencintai sekitarnya. Karena pendidikan usia dini dianggap adalah saat yang tepat untuk mengenalkan anak-anak untuk mencintai Agama, mencintai Rasulnya,mencintai kitab sucinya, guru dan orang tuanya.
  6.      Memberikan Bantuan Operasional yang bertujuan memperluas dan meningkatkan layanan PAUD bagi anak usia 0 – 6 tahun, dengan prioritas anak dari keluarga kurang mampu, berkebutuhan khusus, dan layanan khusus.


Apakah metode PAUD pada masa ini sesuai atau tidak bagi anak?
  •            Menurut saya, metode PAUD ini sudah cukup baik bagi anak usia dini. Namun, karena PAUD adalah pendidikan yang diberikan pada anak usia 0-6 tahun, maka perlu ditekankan bahwa proses pembelajaran pada anak akan menjadi lebih efektif jika disesuaikan dengan tahap perkembangan dan usianya. Akan sangat berbeda perkembangan baik kognisi maupun fisik anak berusia 0-3 tahun dengan anak yang berusia 4-6 tahun  
  •          Kita dapat menggunakan acuan dengan menggunakan teori kognitif Piaget dan Vygotsky yang menyatakan adanya tahapan perkembangan kognisi pada anak, seperti tahap sensorikmotorik, praoperasional, operasi konkret, dan operasional formal.
  •          Saya juga setuju pada pendapat Mayke (1995) yang menyatakan bahwa belajar dengan bermain memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktekkan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya. Jadi saya menyarankan untuk metode PAUD alangkah baiknya jika kita menggunakan sistem bermain yang terkontrol bagi anak usia dini yang bertujuan agar anak lebih mengenal lingkungan, dapat bereksplorasi dengan baik, dan dapat belajar untuk memecahkan masalahnya dengan cara bermain yang tidak dipaksakan.
  •         Pendidikan dalam bidang kesenian juga diperlukan bagi anak usia dini, agar dapat meningkatkan kreativitasnya dan agar murid tidak bosan terhadap pembelajaran yang monoton.


Wednesday, April 10, 2013

Kelekatan Anak dan Orang Tua/Pengasuh



Mengembangkan kelekatan
         Kelekatan (attachment) adalah ikatan emosional menetap yang kuat, bertimbal balik antara bayi dan pengasuh (orang tua), dan berperan penting dalam kualitas hubungan tersebut. Kelekatan tersebut dapat dikembangkan oleh bayi melalui interaksinya terhadap pengasuh dan sebaliknya.
Pola Kelekatan
         Kelekatan pertama sekali dikemukakan oleh John Bowlby pada tahun 1951 dan kemudian dijelaskan lagi oleh mahasiswa Bowlby yaitu Mary Ainsworth. Bowlby yakin terhadap pentingnya kelekatan antara bayi dan orang tua terutama ibu dan menghindari perpisahan antara ibu-bayi tanpa memberikan pengasuh pengganti yang tepat. Hal yang meyakinkan Bowlby akan hal tersebut dikarenakan hasil dari penelitian terhadap hewan dan pengamatan terhadap anak-anak dengan gangguan di klinik psikoanalisa di London. Bowlby mengatakan bahwa dalam interaksinya, anak mengembangkan kesadaran berdasarkan dua sikap yang penting. Sikap yang pertama adalah evaluasi mengenai diri sendiri (self esteem), dan sikap yang kedua adalah sikap mengenai kepercayaan dan harapan terhadap orang lain (interpersonal trust). Sedangkan Ainsworth mengembangkan teknik situasi asing (strange situation) yaitu teknik adalah situasi terkontrol yang dilakukan untuk mengetahui pola kelekatan antara bayi dengan orang dewasa dan ibu dari bayi tersebut. Dari hasil situasi asing (strange situation) tersebut, Ainsworth dan rekannya menemukan tiga pola kelekatan yang bersifat universal, yaitu: kelekatan aman (secure attachment), kelekatan menghindar (avoidant attachment), dan kelekatan ambivalen-resistan (ambivalen-resistant attachment). Ada penelitian lain (Main & Solomon, 1986) yang menemukan pola kelekatan baru, yaitu kelekatan tidak teratur-tidak terarah (disorganized-disoriented attachment)
a)    Pola Kelekatan Aman (secure attachment) : pola dimana anak menangis atau protes ketika ibu meninggalkannya dan menyambut dengan gembira ketika ibu datang kembali. Anak tersebut menanggap orang tua (pengasuhnya) merupakan secure base, dimana anak akan merasa nyaman.
b)   Pola Kelekatan Menghindar (avoidance attachment) : pola dimana anak memiliki sedikit interaksi dengan pengasuhnya. Anak cenderung tidak menangis ketika ibu meninggalkannya tetapi menghindar ketika ibu kembali. Anak dengan pola ini cenderung tidak menghampiri ibunya ketika membutuhkan sesuatu. Anak mengungkapkan rasa tidak aman yang dirasakannya dengan cara menghindar.
c)   Pola Kelekatan Ambivalen-Resistan : pola dimana anak menjadi gelisah sebelum ibu pergi dan menjadi sangat marah ketika ibu meninggalkannya.
d)   Pola Kelekatan tidak teratur-tidak terarah (disorganized-disoriented attachment) : bayi dengan pola ini tampak tidak memiliki strategi yang terorganisasi untung menghadapi stress pada strange situation. Bayi menunjukkan tidak teratur-tidak terarahnya dengan mencari kedekatan dengan orang lain bukan dengan ibunya dan mereka terkadang tampak bingung dan takut.
Bagaimana Kelekatan Terjalin                                           Ainsworth dan Bowlby memberikan usul bahwa bayi membangun suatu “model kerja (working model)” tentang apa yan diharapkannya dari ibu. Perasaan aman bayi dapat berubah jika ibu memberikan respon lain ataupun tingkah laku ibu yang berbeda dari biasanya.                                   Model kerja pada kelekatan ini berhubungan dengan konsep basic-trust Erikson. Kelekatan aman mencerminkan rasa percaya sedangkan kelekatan taka man menunjukkan rasa tidak percaya.
Berbagai Metode Baru untuk Penelitian Kelekatan                              Beberapa peneliti mencari metode baru untuk penelitian kelekatab dikarenakan adanya peneliti yang mempertanyakan validitas dari metode strange situation. Karena metode tersebut dianggap sangatlah aneh, ibu diminta untuk tidak memulai interaksi dan berulang kali meninggalkan bayi bersama orang asing dan mengharapkan bayi memperhatikan mereka. Alasan lain juga dikarenakan strang situation adalah teknik yang tidak valid terhadap berbagai budaya, seperti budaya nonbarat.                      Para peneliti mulai mencari metode dimana metode strange situation dapat dilengkapi dengan metode yang lebih bersifat alamiah dan universal. Waters dan Deane mengemukakan metode yang dinamakan Attachment Q-set (AQS) yang meminta ibu atau pengasuh dirumah untuk mengamati anak dan mengurutkan sekelompok kata-kata deskriptif yang paling menggambarkan dan paling tidak menggambarkan perilaku bayi tersebut dan membandingkannya dengan anak yang memiliki prototype kelekatan aman (secure attachment). Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa kecebderungan menggunakan ibu sebagai dasar dari rasa aman bersifat universal, walaupun bentuknya bervariasi. Namun, AQS hanya mengukur derajat kelekatan rasa aman, maka peneliti lebih baik jika melengkapinya dengan metode strange situation untuk mengetahui apakah ada bentuk kelekatan tidak aman atau kelekatan tidak teratur pada anak tersebut.

Peran Temperamen                                                                              berdasarkan penelitian pada bayi berusia 6 hingga 12 bulan, baik sensitivitas ibu maupun temperamen bayi mempengaruhi kelekatan. Dengan demikian, bayi yang lekas marah memiliki kecenderungan untuk dapat menghambat perkembangan kelekatan aman, tetapi tidak terjadi jika ibu dapat mengatasi secara baik temperamen dari bayi tersebut.
Kecemasan Orang Asing dan Kecemasan Perpisahan
         Kecemasan perpisahan (separation anxiety) adalah kesedihkan yang ditunjukkan oleh seseorang saat pengasuhnya pergi. Sedangkan kecemasan orang asing adalah kecemasan terhadap orang dan tempat asing yang ditunjukkan oleh beberapa bayi semasa paruh akhir tahun pertama. Tangisan bayi ketika orang tua meninggalkannya maupun ketika orang asing mendekatinya lebih menunjukkan temperamen dari bayi tersebut daripada menggambarkan pola kelekatannya. Kecemasan perpisahan juga dapat dikarenakan pergantian pola asuh dari pengasuh, maka disarankan bahwa pola pengasuhan haruslah bersifat stabil.

Pengaruh Jangka Panjang kelekatan
         Pada teori kelekatan mengatakan bahwa kelekatan yang aman sepertinya mempengaruhi kompetensi emosional, social, dan kognitif. Semakin dekat kelekatan anak dengan pengasuh maka tampak semakin mudah bagi anak tersebut untuk berinteraksi dan berhubungan baik dengan orang lain. Seseorang anak yang mendapatkan rasa aman dan dapat mempercayai pengasuhnya cenderung memiliki rasa percaya diri yang cukup untuk aktif di dunia mereka. Antara usia 3 dan 5 tahun, mereka juga cenderung memiliki persahabatan yang lebih erat dibandingkan anak dengan kelekatan tidak aman dan keuntungan dari kelekatan aman ini akan terus berlanjut pada anak tersebut.

Transmisi Pola Kelekatan Antargenerasi
         Penelliti menggunakan adult attachment interview (AAI) yang merupakan wawancara semi-terstruktur yang menanyakan orang dewasa untuk mengingat masa lalu mereka yang berhubungan dengan kelekatan pada masa kanak mereka. Penelitian ini menemukan bahwa orang dewasa akan memprediksi rasa aman yang mereka lekatkan pada anak mereka sendiri.
         Orang dewasa yang mengingat pengalaman masa kecil dengan orang tuanya akan mempengaruhi emosional mereka dalam cara memberikan respon kepada anak mereka sendiri. Seorang ibu yang menjalin kelekatan aman dengan ibunya akan mengerti tingkah laku kelekatan bayinya. Ibu yang terikat pada masa lalu mereka cenderung menunjukkan rasa marah dan kekasaran dalam interaksi dengan anak mereka. Sedangkan ibu yang melupakan ingatan masa lalunya akan cenderung bersifat dingin dan tidak responsif terhadap anaknya.

Komunikasi Emosional dengan Pengasuh: Regulasi Timbal Balik
         Bayi memiliki dorongan kuat untuk berinteraksi dengan orang lain. Interaksi ini memengaruhi rasa aman dari kelekatan bergantung pada kemampuan baik anak dan pengasuh untuk merespon dengan cepat dan secara sensitive terhadap keadaan mental dan emosional satu sama lain. Hal ini adalah suatu proses yang disbut sebagai Regulasi timbal balik. Bayi menunjukkan interaksinya dengan cara mengirim sinyal perilaku kepada pengasuh dan melihat respon dari pengasuhnya. Regulasi timbal balik ini mengajarkan bayi untuk membaca tingkah laku seseorang dan menyesuaikan ekspetasinya dengan tingkah lakunya.
         Terdapat proses penelitian yang digunakan untuk mengukur regulasi timbal balik pada bayi usia 2 sampai dengan 9 bulan. Proses tersebut disebut dengan “still-face” paradigm. Pada episode ini seorang ibu diminta untuk mengikuti interaksi normal dengan bayi kemudian secara tiba-tiba merubah ekspresinya menjadi kaku dan diam. Setelah beberapa menit kemudian ibu berinteraksi secara normal kembali (proses reuni). Dari proses tersebut didapatkan bahwa cara ibu melihat dan memandang bayinya berpengaruh terhadap respon bayi pada proses “still face” paradigm. Dan bayi dengan orang tua lebih responsif dan sensitif dapat lebih mampu menghibur dan menenangkan dirinya sendiri ketika proses reuni.